Batu Giok Seberat 20 Ton ditemukan di Aceh

Batu Giok

Batu Giok Seberat 20 Ton ditemukan di Aceh, bermula ketika seorang warga Pante Ara, Kecamatan Beutong Ateuh, Kabupaten Nagan Raya, bernama Usman. Usman adalah orang pertama yang menemukan bongkahan batu giok super besar di dalam semak-semak hutan lindung.

Menurut warga Pante Ara, Kamaruzzaman saat dihubungi salah satu wartawan merdeka.com, batu giok tersebut ditemukan sendiri oleh Usman saat sedang mencari batu mulia ini. Usman tak sengaja melihat bongkahan batu besar itu dan penasaran, Usman pun mendekati batu itu yang tertutup dengan daun-daun.

“Karena penasaran, Usman pun mengajak rekannya yang lain untuk memeriksa batu tersebut, setelah dibersihkan baru mereka kaget menemukan batu giok jenis idocrase diperkirakan 20 ton,” tegas Kamaruzzaman, via telepon genggamnya.

Baca juga : Batu Termahal dan Terangka di Dunia

Menurutnya, diperkirakan bongkahan batu besar itu terdapat idocrase super, solar dan neon. Ketiga jenis batu ini memang paling digemari pecinta batu saat ini dan bernilai tinggi. Jenis solar saja bisa dijual paling murah Rp 1 juta.

“Usman itu memang sudah lama mencari batu, sudah setahun lalu, namun belum pernah menemukan giok yang bagus, baru kali ini dia mendapatkan giok super seberat 20 ton,” terangnya.

Usman beserta rekannya mengurungkan niatnya mengambil giok tersebut, jelasnya. Selain berada dalam hutan lindung, pemerintah Nagan Raya telah mengeluarkan aturan tidak boleh menambang di hutan lindung dan dilarang membawa bongkahan giok berat di atas 10 kilogram.

Kendati demikian, pada siangnya, sejumlah warga desa tetangga mengajak Usman untuk membelah batu tersebut. Namun Usman selaku penemu pertama menolak rencana tersebut.

“Ada warga desa tetangga meminta giok itu dibelah, tetapi Usman menolak,” jelasnya.

Kemudian pada malam harinya warga Desa Pante Ara mendapat informasi warga desa tetangga hendak mengambil batu giok super tersebut yang ditemukan oleh Usman. Sehingga menyulut emosi warga setempat dan langsung datang ke lokasi untuk mengamankan batu giok tersebut.

“Malam itu juga kami bergerak untuk menjaga agar tidak diambil oleh orang lain batu giok tersebut, sampai sekarang pihak kepolisian dan warga Desa Pante Ara masih berjaga-jaga di sekitar batu itu,” tegasnya.

Untuk menuju ke lokasi ditemukannya giok seberat 20 ton tersebut harus terlebih dahulu menyusuri sungai sejauh 10 Km. Saat ini batu giok tersebut sudah dipasang garis polisi.

Sementara itu, Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh (GaPBA) memperkirakan batu giok yang ditemukan oleh Usman itu memiliki berat sekitar 20 ton. Batu giok yang ditemukan itu diyakini berjenis idocrase super. Bila dalam batu tersebut terdapat 60 persen saja kandungan idocarse super, harganya bisa mencapai Rp 30 miliar.

“Bila 60 persen saja terdapat idocrase super kita perkirakan 30 miliar harganya, idocrase super yang sudah menjadi cincin saja bisa harganya mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta,” kata ketua GaPBA, Nasrul Sufi, Selasa (17/2) di Banda Aceh.

Agar temuan Sumber . . . . . . Daya Alam (SDA) ini tidak menimbulkan konflik, Nasrul Sufi yang akrab disapa Tgk Abang memberikan solusi agar dibagikan batu giok idocrase super itu sama rata. Sehingga tidak menimbulkan konflik baru nantinya.

Giok 20 Ton ini Diperebutkan Warga

Penemuan batu giok seberat 20 ton di Nagan Raya Aceh sempat menimbulkan ketegangan antara masyarakat lokal dengan warga pendatang. Untuk mencegah konflik sosial terjadi, pendatang diminta menghargai adat setempat.

“Jika pendatang menghargai adat setempat, tentu konflik sosial tidak akan terjadi seperti contoh di Nagan Raya,” kata Ketua Komisi I DPR Aceh, Abdullah Saleh, dalam rapat kerja membahas regulasi giok, di Gedung DPR Aceh,

Rapat kerja ini membahas tentang rencana penetapan qanun atau regulasi menyangkut mekanisme pengambilan, pengolahan, dan penjualan batu alam jenis akik, giok dan lainnya di Aceh.

Dalam rapat kerja tersebut, Abdullah Saleh juga menyarankan agar pemerintah setempat dalam mengambil keputusan lebih memperhatikan adat yang berlaku di masyarakat setempat. Hal ini, katanya, perlu dilakukan agar konflik sosial tidak terjadi.

“Kita tidak mau konflik sosial ini terus terjadi dan harus segera dicari solusi,” jelasnya.

Giok seberat 20 ton ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh beberapa hari lalu di kawasan hutan lindung. Karena ada aturan yang melarang warga menambang, masyarakat setempat tidak mengambil giok tersebut. Tapi kemudian datang sejumlah pendatang hendak mengambil secara diam-diam.

Warga setempat yang mengetahui ini kemudian kembali mendatangi lokasi yang berjarak sekitar 10 km dari perkampungan untuk mencegah pendatang mengambil batu. Giok tersebut hingga kini masih dijaga oleh warga.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, mengatakan, keputusan penghentikan penambangan sementara ini dikeluarkan untuk menertibkan para pencari batu sembari menunggu keluarnya aturan baru. Setelah batas waktu habis, para penambang akan mencari giok dilokasi yang ditentukan.

Aturan yang dikeluarkan pada 2 Februari 2015 silam ini akan berlaku hingga 8 Maret mendatang. Selama batas waktu tersebut, warga tidak diizinkan mengambil batu di areal hutan lindung.

Facebook Comments

Republished by Blog Post Promoter

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular

To Top
==[Close Klik 2x]==